Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts

Tuesday, March 29, 2011

Contoh bab 5 tesis : Metode Penelitian

Studi ini menggunakan analisa isi kuantitatif sebagai metode untuk mengukur keberadaan atau ketiadaan kerangka media, untuk mengevaluasi valensi (positif, negatif, netral), meninjau substansi kerangka (ambigu versus substantif), kerangka dominan, dan valensi keseluruhan kisah.
A. Sampel
Studi ini menggunakan isi dari enam surat kabar yang dikumpulkan dari tanggal 18 Maret 2006 hingga 10 April 2006 - ketika kisah pertama muncul dalam The News and Observer hingga ketika berita mengungkapkan kalau tidak ada DNA. Untuk tujuan studi ini, artikel tersebut menjadi unit analisa dan semua kisah terkait skandal Pemerkosaan Duke, termasuk berita keras, berita lembut, dan editorial, dikumpulkan selama periode waktu ini.
Studi memilih tanggal 18 Maret 2006 hingga 10 April 2006 berdasarkan teori pengerangkaan media Graber dalam tahapan sebuah krisis. Periode waktu ini dipilih karena media masih mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari skandal yang terjadi. Rentang tanggalnya jauh lebih besar daripada sebagian besar studi sebelumnya; penalaran dibalik hal ini adalah (1) skandalnya tidak memiliki pengaruh nasional sehingga tidak memiliki liputan nasional tepat waktu semenjak artikel pertama diterbitkan; (2) skandal perlu waktu lebih lama untuk dipahami dan dipelajari daripada contoh seperti peristiwa 11 September; dan (3) karena fakta kalau krisisnya adalah sebuah skandal, lebih sulit lagi menemukan resolusinya.
Satuan analisa mencakup enam surat kabar dan 108 artikel surat kabar yang dievaluasi studi ini. Artikel surat kabar yang terlibat dalam studi ini termasuklah The New York Times, The Washington Post, USA Today, The Boston Globe, The Philadelphia Inquirer and The News & Observer. Surat kabar ini dipilih karena sirkulasi dan distribusi geografisnya. Menurut Biro Audit Sirkulasi tahun 2006; The New York Times, The Washington Post, USA Today,The Boston Globe, The Philadelphia Inquirer semua merupakan 15 surat kabar puncak dalam sirkulasi di Amerika Serikat. Selain itu, studi ini melihat pada The News & Observer, yang berada di Raleigh, Karolina Utara, karena ia dipandang sebagai episenter skandal pemerkosaan Duke Lacrosse.The News & Observer juga memuat sirkulasi pembaca tertinggi di Raleigh, daerah Durham (Audit Bureau Circulation, 2006).
Ada 108 artikel berita yang ditemukan dalam LexisNexis dari surat kabar sampel yang disediakan. “Duke Lacrosse” dan “Duke Rape” adalah kata kunci yang dipakai untuk mencari database LexisNexis. Karena fakta kalau The News & Observer tidak muncul dalam mesin pencari LexisNexis, artikel surat kabarnya dikumpulkan dari bagian arsip internet surat kabar aktualnya. Dari 108 artikel, 9 artikel datang dari Washington Post, 12 dari USA Today, 6 dari Philadelphia Inquirer, 22 dari The New York Times, 9 dari Boston Globe, dan 52 dari The News & Observer. The News & Observer memiliki sampel lebih besar karena fakta kalau ia meliput berita dalam daerah Raleigh/Durham. Semua artikel yang dikumpulkan diunduh secara sistematis dari database LexisNexis, dan disimpan di sebuah komputer pribadi.
B. Variabel
Analisa isi harus menemukan kerangka yang ada dalam liputan surat kabar, menyandikan tiap cerita ke dalam sejumlah variabel. Studi ini memeriksa keberadaan/ketiadaan sederetan variabel dan valensi dari 20 variabel, termasuk pengarang cerita, tahapan krisis, fokus cerita, sumber atribusi, kerangka baik spesifik isu maupun generik, kerangka substantif versus ambigu, valensi kerangka, kerangka dominan, aktor yang ada dan valensi, dan valensi keseluruhannya.
Dua penyandi diminta menentukan pengarang cerita surat kabar sebagai berikut: Penulis staff: orang yang bekerja untuk surat kabar namun tidak memberikan pendapatnya. Kolumnis sindikat: kolumnis yang bekerja untuk surat kabar namun diizinkan memberikan pendapatnya. Kolumnis independen: kolumnis yang memberikan pendapatnya dan merupakan kontributor surat kabar. Kantor berita: apapun yang ditulis oleh asociated press dan bukan dari surat kabar itu sendiri.
Para penyandi akan menentukan topik/isu berikut berfokus pada cerita dengan memilih yang ada dalam artikel:
(1) Pemain Duke: Kategori pemain Duke menekankan berita yang melibatkan penyebutan pemain Duke lacrosse. Hal ini melibatkan berita mengenai pemain itu sendiri, apakah mereka disebutkan atau hanya sebagai bagian dari tim
(2) Keberadaan/Ketiadaan DNA: Kategori yang menekankan berita yang melibatkan penyebutan DNA. Berita dapat menekankan keberadaan DNA, ketiadaan DNA, atau semata uji DNA yang akan dilakukan, atau harus ditentukan dalam kasus tersebut.
(3) Tokoh Politik: Kategori tokoh politik menekankan berita yang melibatkan petugas pilihan masyarakat. Kategori ini mencakup contoh seperti Walikota atau Gubernur
(4) Isu Ekonomi: Kategori isu ekonomi menekankan berita yang berfokus pada konsekuensi atau isu ekonomi yang berkaitan dengan kasus tersebut. Fokus ini dapat pula mencakup pendapatan tahunan keluarga di Duke, biaya hidup di Duke dan pendapatan tahunan warga Durham.
(5) Kampanye : Kategori kampanye menekankan berita yang berfokus pada kampanye mendukung atau menolak pemain Duke. Sebagai contoh kampanye “Take Back the Night” yang terjadi di kampus Duke saat berita awal dapat dipandang sebagai contoh kategori ini.
(6) Musim Kompetisi Lacrosse: Kategori musim kompetisi lacrosse menekankan berita yang berfokus pada musim kompetisi lacrosse Duke. Berita ini dapat mencakup kisah mengenai permainan dan pengaruh tim ini pada NCAA.
(7) Persidangan : Kategori persidangan menekankan berita yang berurusan dengan tanggal dan peristiwa persidangan yang spesifik. Informasi apapun yang datang dari laporan persidangan dalam kasus pemerkosaan Duke disertakan.
(8) Masalah Duke: Kategori masalah Duke menekankan berita yang menyorot dampak pada Universitas Duke. Berita apapun yang menyebutkan: mahasiswa Duke, rektor Duke, atau reputasi Duke disertakan.
(9) Masalah Durham: Kategori masalah Durham menekankan berita yang menyorot dampak pada kota Durham. Berita apapun yang menyebutkan kepentingan warga kota Durham, walikota Durham, atau reputasi Durham disertakan.
(10) Pemain ditemukan Tidak Bersalah: Kategori pemain ditemukan tidak bersalah menekankan berita yang membahas kalau pemain Duke ternyata tidak bersalah dalam kasus ini. Berita apapun yang menekankan kalau pemain Duke tidak bersalah, tidak bersalah hingga terbukti bersalah, atau artikel yang menekankan kalau masyarakat harus menunggu disertakan.
(11) Yang lain: Berita apapun yang tidak melibatkan fokus cerita di atas akan dimasukkan.
Atribusi Sumber
Penyandi akan menentukan daftar sumber berikut yang mungkin ada atau tidak ada dalam berita :
(1) Pemain Tertuduh
(2) Pemain Lain
(3) Mike Nifong
(4) Ofisial Tim
(5) Richard Broadhead
(6) Anonim
(7) Ofisial NCAA
(8) Delegasi NCAA
(9) Tokoh Politik
(10) Dosen Duke
(11) Kepala Polisi
(12) Petugas Polisi
(13) Yang lainnya
Kerangka
Kerangka Generik
Masing-masing kerangka generik akan disandikan. Berdasarkan definisi sebelumnya yang disediakan oleh Sementko dan Valkenburg (2000), studi ini akan memandang lima kerangka generik.
(1) Konflik: Kerangka ini menekankan konflik antara individu, kelompok, atau lembaga sebagai alat menangkap minat audiens (Neuman et al. 1992, Sementko dan Valkenburg 2000). Ini mencakuplah berita yang menekankan konflik antara Tim Duke Lacrosse dan Mike Nifong, Tim Duke Lacrosse dan Universitas Duke, Mike Pressler dan Universitas Duke, Universitas Duke dan Mike Nifong, Mahasiswa dan Tim Duke Lacrosse, NCAA dan Universitas Duke, NCAA dan Duke Lacrosse.
(2) Minat Manusia: Kerangka ini membawa wajah atau sudut emosi manusia dalam presentasi peristiwa, isu atau masalah (Neuman et al. 1992, Sementko & Valkenburg 2000). Ini termasuklah berita yang membahas kesehatan mental dan kesejahteraan potensial dari Crystal Mangum.
(3) Konsekuensi Ekonomi: Kerangka ini melaporkan peristiwa, masalah atau isu dalam hal konsekuensi yang akan dihadapinya secara ekonomi pada individu, kelompok, lembaga, wilayah atau negara (Neuman et al. 1992, Sementko & Valkenburg 2000). Hal ini termasuklah berita yang membahas bagaimana skandal ini dapat berpengaruh pada ekonomi daerah sekitar Duke, tim, pelatih atau pemain individual.
(4) Moralitas : Kerangka ini meletakkan peristiwa, masalah dan isu dalam konteks agama atau moral (Neuman et al. 1992, Sementko & Valkenburg 2000). Hal ini termasuklah berita yang memeriksa etika dibalik mereka yang terlibat dalam skandal pemerkosaan Duke.
(5) Tanggung Jawab: Kerangka ini menyajikan isu atau masalah sedemikian sebagai atribut tanggung jawab penyebab atau solusinya baik pemerintah atau individu atau kelompok (Neuman et al. 1992, Sementko & Valkenburg 2000). Hal ini termasuklah berita yang menekankan atau memeriksa siapa yang bertanggung jawab untuk membantu pencegahan pelecehan seksual, atau menyalahkan sumber lain dengan mengatakan atlit NCAA dapat melakukan apapun yang mereka inginkan.
Kerangka Spesifik-Isu
Masing-masing kerangka spesifik isu akan disandikan. Berdasarkan definisi sebelumnya yang diberikan de Vreese (1991, 2001) studi ini akan mengevaluasi 7 kerangka tambahan yang spesifik pada skandal pemerkosaan Duke Lacorsse.
(6) Pengaruh Sosial: Kerangka ini mencakup berita yang membahas pengaruh masyarakat umum, tidak menyebutkan Duke secara khusus, namun pengaruh keseluruhan Duke, mahasiswa Duke, administrasi Duke, warga kota Durham, politisi Durham, dan Durham secara umum dalam situasi ini.
(7) Pengaruh pada NCAA: Kerangka ini mencakup berita yang membahas pengaruh minuman keras dan pelecehan seksual pada universitas lain. Sebagai tambahan, ia mencakup berita yang membahas bagaimana NCAA dipengaruhi oleh skandal ini.
(8) Pengaruh pada Duke: Kerangka ini mencakup berita yang membahas pengaruh Duke, mahasiswa Duke, fakultas Duke dan tim Lacrosse. Semua berita yang membahas pengaruh yang diperoleh Duke berdasarkan skandal ini.
(9) Konsekuensi Politik: Kerangka ini mencakup berita yang membahas konsekuensi politik untuk universitas, tokoh kunci atau agenda nasional.
(10) Konsekuensi Duke: Kerangka ini mencakup berita yang memeriksa apa pengaruh pada universitas itu sendiri dan penalti atau kekacauan yang mereka hadapi saat berita mengenai skandal pemerkosaan.
(11) Konsekuensi Pemain: Kerangka ini mencakup berita yang memeriksa pengaruh apa yang akan terjadi pada Tim Duke Lacrosse setelah tuntutan skandal pemerkosaan.
(12) Reaksi Publik: Kerangka ini mencakup berita yang menekankan reaksi publik pada isu skandal pemerkosaan Duke, persidangan atau penyelidikan mereka yang terlibat dalam kasusnya.
Dst

Monday, March 21, 2011

Contoh bab 3 tesis: Strategi Presentasi Diri di Situs Jejaring Sosial

Pendahuluan
Ada konflik yang sangat nyata antara cara pengguna memahami identitas mereka secara online dan ekspresi yang didukung oleh aplikasi komersial. Piranti lunak secara khusus membentuk dan menopang presentasi diri dengan cara tertentu, sering kali dalam bentuk membatasi atau mendukung pengguna membentuk identitas mereka dalam garis yang diterima secara komersil. Mekanisme spesifik dimana hal ini dapat dicapai paling mudah dipahami dengan meletakkan ruang online tertentu dibawah mikroskop. Dalam bab ini, penulis melakukan pemeriksaan mendalam pada situs-situs jejaring sosial (SJS) seperti Facebook, MySpace dan Friendster. Tujuan penulis adalah menunjukkan bagaimana orang memilih menyajikan diri mereka lewat situs berbasis profil dan bagaimana struktur situs mendukung tipe tertentu presentasi identitas.
Dalam bab ini, penulis memperkenalkan jasa jejaring sosial dan membahas dengan singat teori dasar analisa jejaring sosial yang mempengaruhi desain aplikasi ini. Penulis terutama melihat pada keluasan ruang dalam situs ini untuk presentasi diri dan ekspresi identitas, dan asumsi problematis yang mendukung struktur ini. Walaupun ada masalah inheren seperti ini, para pengguna telah mengadopsi sejumlah strategi kreatif untuk menghadapi pembatasan oleh teknologi ini. Selanjutnya, penulis mensituasikan situs jejaring sosial dalam konteks yang lebih besar dari internet komersial, sebagai yang telah di bahas dalam bab sebelumnya. Karenanya, asumsi aplikasi teramalkan pada sifat mencari untung dari situs, dan cara dimana identitas diperdagangkan terkait secara mendasar dengan spesifikasi pembangkitan pendapatan.
Jasa Jejaring Sosial
Dalam tiga tahun terakhir, situs jejaring sosial telah tumbuh populer pada pengguna internet di penjuru dunia. Friendster, aplikasi jejaring sosial original, didirikan tahun 2002, memiliki basis tujuh belas juta pengguna, dan telah memicu sejumlah industri kecil untuk menyaingi. Beberapa situs ini, seperti MySpace dan Facebook, berhasil melewati Friendster dalam popularitasnya dengan mentargetkan populasi khusus dan menggunakan fitur baru secara beraturan. Yang lainnya, seperti Microsoft’s Wallop, Rojo, dan Yahoo!360, menggabungkan jejaring sosial dengan fungsionalitas sosial tambahan seperti RSS feeds, blog dan picture sharing. Secara keseluruhan, ada beberapa ratus situs jejaring sosial saat ini, termasuk Tribe.net, Jobster, Dogster dan Orkut. (Meskill, 2005)
Semua aplikasi ini secara umum berdasarkan pada gagasan umum yang ditarik dari analisa jejaring sosial: bahwa jaringan sosial terartikulasi publik memiliki manfaat. Yaitu, memungkinkan aktor mengkodifikasi, memetakan dan memandang ikatan relasional antara mereka dan orang lain dapat memiliki konsekuensi positif. Situs jejaring sosial dirancang khusus untuk memfasilitasi interaksi pengguna untuk berbagai tujuan, terutama pacaran, jaringan bisnis dan promosi. Walau begitu, penulis menyatakan bahwa generasi piranti lunak jejaring sosial saat ini problematis dalam beberapa hal, khususnya dalam tipe presentasi diri yang tertanam dalam aplikasi. Tipe strategi presentasi diri yang dimungkinkan aplikasi secara langsung mempengaruhi tujuan komersil situs tersebut bukannya kebutuhan pegguna. Sebagai hasilnya, pengguna menerapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan utilitas jaringan dan mengatasi asumsi komoditas ini.
Penting untuk tetap mengingatk kalau situs jejaring sosial adalah teknologi yang masih belum dewasa. Amin dan Thrift (2002) menulis mengenai threshold “tek terlihat” sebuah teknologi, atau titik dimana ia digunakan tanpa berpikir. Sebagai contoh, saat kita mengganti saluran televisi, kita tidak berpikir “Saya akan mengambil dan menggunakan remote control yang akan mengganti saluran menggunakan transmisi inframerah”, tapi, kita hanya memikirkan fungsinya yaitu mengubah saluran. Teknologi yang memfasilitasi proses ini menjadi tak terlihat. Sebaliknya, pengguna situs jejaring sosial umumnya berfokus pada penggunaan aplikasi, bukannya manfaatnya. Tetap belum terlihat apakah situs jejaring sosial akan hidup dengan kebaruannya dan menjadi bagian berguna dari struktur sosial pengguna internet.
Analisa Jejaring Sosial
Jasa jejaring sosial memungkinkan pengguna mengartikulasikan dan memetakan hubungan mereka secara publik dengan orang, organisasi dan kelompok. Walaupun ada perbedaan antara berbagai aplikasi jejaring sosial, mereka cenderung memiliki struktur dasar yang sama. Seorang pengguna baru mulai dengan menciptakan akun, mengisi profil, mencari pengguna lain dan menambahkan orang lain ke daftar temannya. Ketika orang telah membangun jaringan “teman”, mereka menjadi terhubung pada jaringan teman ke teman yang lebih besar. Tergantung pada situs jejaring sosialnya, pengguna dapat menjelajahi profil individu lain (beberapa situs membatasi kemampuan anda untuk menjelajahi profil dalam “jaringan diperluas” anda, atau orang yang terpisah dari anda dengan dalam “derajat” tertentu). Untuk menemukan orang tertentu, pengguna dapat mencari profil berdasarkan nama atau alamat email atau menjelajahi jaringan dengan kriteria tertentu (nama sekolah, single dibawah 30 tahun di Bogor, orang yang menyukai ST12). Dalam situs tersebut, pengguna dapat mengirim pesan satu sama lain, chat, posting ke bulletin boards dan menulis “testimonial” untuk temannya. Sebagian besar situs jejaring sosial memasukkan tampilan masyarakat yang memungkinkan pengguna membahas mengenai aktivitas dan minat bersama, dan yang lain memasukkan weblog, jurnal dan photo sharing kedalam setting mereka.
Sebelum menyelam kedalam kekhususan presentasi identitas, penulis ingin mensituasikan situs jejaring sosial ke dalam analisa jejaring sosial (AJS), yang memungkinkan peneliti mempelajari pola sosial level mikro dengan mengkaitkannya dengan teori sosial level makro (Granovetter, 1973). Garton, Haythornthwaite dan Wellman (2003) mendefinisikan sebuah jaringan sosial sebagai “sekumpulan orang (atau organisasi atau entitas sosial lainnya) yang terhubung lewat seperangkat hubungan sosial, seperti pertemanan, pekerjaan atau pertukaran informasi.” Analisa jejaring sosial melibatkan pemetaan dan pengukuran hubungan antara noktah jaringan, atau orang, entitas dan kelompok, untuk memeriksa aliran informasi antar ikatan. Analisa jejaring sosial memungkinkan peneliti memandang jaringan baik secara visual maupun matematis (Krebs, 2004) untuk meramalkan aliran informasi, jaringan pertemanan dan pola perilaku. Peneliti yang menggunakan analisa jejaring untuk mempelajari perilaku manusia umumnya beranggapan kalau cara aktor atau noktah berperilaku tergantung pada hubungan mereka (ikatan) dan pola sosialnya (struktur). Saat menggunakan analisa jejaring untuk meneliti, misalkan, peristiwa atau gerakan historik, struktur budaya, politik dan normatif umumnya dikesampingkan untuk melihat lebih dekat jaringan yang dipetakan (Emirbayer dan Goodwin, 1994).
Sebagai contoh, Granovetter (1973) menggunakan analisa jejaring sosial untuk meramalkan bagaimana dua orang, masing-masing terhubung ke orang ketiga lewat sebuah “ikatan kuat”, akan berperilaku pada satu sama lain. Catat bahwa kekuatan sebuah ikatan ditentukan lewat sejumlah kriteria yang mencakup jumlah waktu yang dihabiskan kedua orang bersama, intensitas emosi mereka, jumlah keintiman dan “jasa resiprokal yang mencirikan ikatannya.” Ambil contoh Dwi, seorang aktor, atau noktah, dalam sebuah jaringan sosial, dan dua teman terdekatnya, Astuti dan Ajeng. Granovetter berpendapat kalau Astuti dan Ajeng akan memiliki ikatan yang setidaknya lemah satu sama lain karena keterikatan kuat bersama mereka pada Dwi. Lebih jauh, mungkin kalau Astuti dan Ajeng akan berikatan kuat satu sama lain, karena hubungan antara keduanya akan memperkuat ikatan mereka pada Dwi. Karenanya, faktor yang paling penting dalam meramalkan perilaku Astuti dan Ajeng satu sama lain adalah peran mereka dalam jaringan yang menghubungkan mereka dengan Dwi.
Pada point ini berguna membedakan antara masyarakat dengan jejaring sosial. Elemen kunci dalam jejaring sosial adalah jejaring itu sendiri, yang dapat tersusun dari banyak masyarakat yang saling hubung, atau unsur yang terkaitkan oleh satu ikatan lemah. Masyarakat, di sisi lain, menunjukkan sekelompok orang yang dihubungkan oleh minat bersama atau keberumuman (lihat Wellman, 1997 dan 2001; Rheingold, 2000). Walaupun masyarakat dapat merupakan jejaring sosial, jejaring sosial bukanlah masyarakat.
Dengan pertimbangan ini, bagaimana pendekatan analisa jejaring sosial dalam interaksi online? Dapatkah ia mencakup masyarakat atau aktor maya yang hubungan utamanya dilakukan secara online? Garton, Haythornthwaite dan Wellman (1997) berpendapat kalau analisa jejaring sosial dapat dengan mudah diterapkan pada interaksi sosial yang terjadi secara online. Sebagai contoh, analisa jejaring sosial dapat digunakan untuk mempelajari pola aliran informasi, khususnya bentuk-bentuk yang sangat efektif secara online (aliran informasi viral atau memetik, misalnya). Kedua, pengarang mengajukan kalau jejaring online sangat berguna untuk membangun ikatan lemah, karena kemajuan sosial terkait dengan menghubungi ikatan lemah lebih rendah pada saat online daripada dalam dunia nyata. Dengan cara ini, jejaring sosial online dapat lebih mudah dijembatani daripada dalam jejaring sosial dunia nyata, memungkinkan informasi dikirim ke kelompok aktor yang lebih besar dan lebih luas. Pada akhirnya, jejaring sosial online memungkinkan orang berinteraksi walaupun terpisah pada jarak atau keruangan fisik, dan dapat, dalam beberapa kasus, memungkinkan orang menjembatani hirarki sosial pula. Bukan hanya analisa jejaring sosial berguna untuk melihat interaksi online, interaksi online khususnya cocok untuk membangun dan menggunakan jejaring sosial.
Situs Jejaring Sosial
Karena jejaring sosial online dapat menjadi subjek gaya yang sama yang dipelajri oleh analis jejaring sosial dalam jejaring sosial offline, janin dibalik penciptaan situs jejaring sosial formal adalah untuk membiakkan gaya-gaya ini (misalnya aliran informasi) untuk manfaat instrumental. Penting dicatat kalau baik jejaring sosial informal maupun formal telah ada secara online; masyarakat online ada dalam berbagai array situs, mulai dari jaringan video game dan chat room untuk fan, bulletin boards, professional listserv dan jaringan seniman informal yang bekerja sama dalam musik dan video digital. Walau begitu, situs jejaring sosial berasal baik dalam teori Granovetter dan idenya serta penekanan dunia bisnis pada jaringan. Sementara para pendiri beberapa layanan (Wallop, misalnya) dan lainnya (seperti pendiri Friendster, Jonathan Abrams) mengklaim besarnya pengaruh dari analisis jejaring sosial, mereka sesungguhnya mengabaikan teori tersebut (boyd, 2005), karena keberumuman adalah manfaat jejaring sosial yang sesungguhnya. Situs jejaring sosial saat ini bertujuan meningkatkan kemampuan pengguna menemukan pekerjaan, pasangan, teman baru, apartemen dan lainnya lewat jaringan teman diperluas.
Informasi menyebar dalam situs jejaring sosial lewat dua cara. Pertama, ikatan lemah adalah cara paling efektif dalam mengumpulkan dan memilah informasi. Ikatan lemah berfungsi sebagai jembatan bagi populasi diluar lingkaran sosial dekat seseorang dan menghubungkan kelompok-kelompok terpisah. Granovetter menulis:
Apapun yang akan berdifusi dapat mencapai jumlah orang yang besar, dan melintasi jarak sosial yang lebih besar (yaitu panjang jalur), saat lewat melalui ikatan lemah daripada lewat ikatan kuat. Bila seseorang mengatakan sebuah gosip pada semua teman dekatnya, dan mereka melakukan hal yang sama, banyak yang akan mendengar gosip tersebut dua atau tiga kali, karena mereka yang terhubung dalam ikatan kuat akan cenderung berbagi teman (Granovetter, 1973:1336)
Situs jejaring sosial meningkatkan jembatan ke kelompok selain teman dekat seseorang dengan memfasilitasi pertemanan ikatan kuat dan lemah. Selain itu, kemampuan memposting pesan di papan buletin yang mencapai semua orang yang ada di daftar teman seseorang memungkinkan jaringan diperluas ini digunakan untuk manfaat instrumental. Seperti itu pula, pesan yang di posting di papan buletin dan jasa blog dari ikatan kuat dan lemah dapat dilihat (Donath dan boyd, 2004).
Kedua, tujuan keseluruhan situs jejaring sosial adalah memfasilitasi pengguna membuat hubungan baru lewat layanan tersebut (Ibid). Situs jejaring sosial berpredikat pada gagasan kalau bertemu orang baru dan meningkatkan jaringan sosial seseorang itu berguna dan bermanfaat bagi semua pihak dalam jaringan. Layanan ini kemudian mempermudah pengguna menghubungi orang secara langsung di luar jaringan dekatnya. Bila pengguna mencari orang tertentu, seperti teman lama dari masa kuliah, mereka dapat mencari berdasarkan nama atau alamat email. Secara kurang formal, pengguna dapat menjelajah dan melihat profil pengguna lain, walaupun mereka bukan teman. Profil yang tersedia bagi pengguna untuk dilihat tergantung beragam faktor, termasuk berapa banyak derajat pemisahan yang ada antara kedua orang dan pilihan privasi yang tersedia (sementara beberapa situs jejaring sosial memungkinkan pengguna melihat profil siapapun dalam jaringan, yang lain, seperti facebook, memiliki pilihan privasi yang baik sehingga pengguna dapat memilih siapa yang berhak melihat informasi pribadinya).
Penting untuk dicatat kalau ada pra asumsi kepercayaan terlibat dalam situs jejaring sosial yang berbeda dari katakanlah jasa pribadi online. Danoth dan boyd menemukan sejumlah tampilan situs jejaring sosial yang menunjukkan hal ini. Pertama, situs jejaring sosial secara publik menunjukkan hubungan partisipan dengan orang lain sebagai bagian dari profil mereka. Hubungan ini dapat pertama membantu menemukan identitas partisipan sebagai identitas yang otentik, karena informasi kontekstual dapat dikumpulkan dari jaringan publik. Kedua, ketersediaan jaringan teman dapat memberi pemeriksaan pada orang yang salah menunjukkan diri mereka di profil, karena mereka seperti kurang dapat berbohong dalam konteks jaringan sosial offlinenya. Ketiga, jaringan yang terlihat memungkinkan pengguna memeriksa pasangan atau rekan bisnis potensial; bila ada teman bersama (atau bahkan teman dari teman) yang umum, pengguna dapat mengirimkannya pesan dan memeriksa kalau Yongki memang benar orang yang baik seperti yang terlihat di profilnya (Ibid)
Sayangnya, rating kepercayaan yang biner (teman atau bukan teman) yang terbatas dalam situs jejaring sosial ini tidak cukup untuk menentukan secara teliti apakah ikatan seseorang dapat dipercayai (Golbeck dan Hendler, 2005). Lebih jauh, berdasarkan pengalaman penulis, penulis telah menemukan kalau mahasiswa penulis lebih mungkin menunjukkan informasi yang sangat pribadi (nomer telepon, lokasi kamar di asrama dan jadwal kuliah) dalam situs jejaring sosial populer, facebook.
Presentasi Diri dalam Situs Jejaring Sosial
Presentasi diri dalam aplikasi jejaring sosial terjadi terutama dalam profil pengguna yang sangat terstruktur dan multi modal. Untuk memahami presentasi ini, kita dapat merujuk kembali teori Goffman mengenai kinerja identitas pentas depan dan pentas belakang, seperti telah dibahas dalam bab pertama (Goffman, 1959). Pertunjukan di pentas depan, dalam analisis Goffman, terdiri dari skenario-skenario dimana sebuah wajah ditampilkan secara publik, seperti seorang pelayan yang bekerja di sebuah restoran menunggu pelanggan. Pertunjukkan di pentas belakang, di sisi lain, terjadi dalam ruang pribadi yang disediakan untuk anggota kelompok, seperti dapur restoran. Seorang mahasiswa dapat menunjukkan identitas pentas depan di kelas, namun menyajikan pentas belakang saat berkumpul dengan teman-temannya saat pesta.
Dan seterusnya ….

Sunday, January 2, 2011

Beberapa topik tesis komunikasi

  • Pengaruh tabloidisasi berita di reality show pada kesadaran akan masalah sosial terkini pada masyarakat miskin perkotaan
  • Tabloidisasi berita online : analisa isi berita dalam tiga situs berita di Indonesia
  • Pengaruh penggunaan media dalam pemilu presiden terbaru : kasus kandidat wakil presiden
  • Pengaruh video kampanye terhadap pandangan kolektif pemilih mengenai korupsi dan politik tradisional
  • Pengaruh jejaring sosial pada mobilisasi remaja dalam pemberlakuan undang undang informatika
  • Pengaruh video games pada skill konsentrasi siswa
  • Pengaruh media sosial pada perilaku membeli
  • Pengaruh musik rap pada aspirasi remaja
  • Nilai-nilai remaja dalam lagu CINTA : Analisa isi
  • Dampak penggantian media online pada komunikasi keluarga
  • Penggunaan, persepsi dan pengaruh penggantian dari berita online
  • Anak dan penggunaan internet: persepsi iklan dan penggantian fungsional
  • Kehidupan remaja online: Pengaruh pengetikan (texting) pada hubungan antarpribadi

Monday, November 22, 2010

Contoh topik tesis pers politik

  1. Perbandingan lintas negara mengenai sistem media dan lingkungan informasi politik
  2. Politisi, wartawan dan hubungan yang rumit
  3. Bagaimana karakteristik sistem media dapat mempengaruhi celah sosial ekonomi dalam partisipasi politik
  4. Bagaimana elit politik menyerang persepsi pengaruh bias media
  5. Pembuatan keputusan komunikasi dalam kebekuan kebijakan media
  6. Komunikasi dan demokrasi dalam masyarakat jejaring
  7. Keterlibatan politik, kewarganegaraan demokratis dan internet
  8. Kekacauan komunikasi politik
  9. Manfaat dan efek media dalam demokrasi baru, studi kasus pemilu 2009
  10. Studi eksplorasi asosiasi antara daya tarik fisik pejabat dan liputan berita televisinya
  11. Peran industri newsreel global dalam transisi panjang dari teks menuju televisi
  12. Mediasi dan personalisasi politik di Indonesia
  13. Tsunami politik di Indonesia dan apa yang harus dilakukan media
  14. Pers kritis, studi kasus liputan berita konflik di Timika
  15. Simbiosis dan ketidakpercayaan antara politisi dan wartawan
  16. Studi perbandingan berita pemilu Indonesia dan Malaysia dalam framing media mengenai berita pemilu
  17. Politisasi persona privat
  18. Batas-batas indeks dan liputan konflik di Poso
  19. Memperbaiki prospek ekonomi suratkabar dengan augmentasi kontribusi pada demokrasi
  20. Tema berita dalam edisi khusus januari 2011
  21. Aliran dua langkah internasional dalam berita asing: studi kasus liputan berita tentang TKI di Indonesia dan Malaysia
  22. Pendekatan relasional dan dinamika, celah antara pilihan berita wartawan dan konsumen
  23. Kampanye negatif dalam berbagai saluran komunikasi
  24. Nilai berita dan alokasi sumberdaya sebagai determinan liputan pemilu
  25. Pengaruh menonton komedi TV malam dalam pembicaraan politik
  26. Bagaimana ruang berita dan politik Kaskus berevolusi
  27. Komunikasi strategis dalam ruang DPR RI
  28. Evolusi berita penyiaran
  29. Pendekatan struktur masyarakat untuk Kesejajaran media dengan perubahan sosial dan politik